Followers

Friday, April 30, 2010

surat

Manis,
Angin berhembus dimusim gugur,
yang merabah dinding kotamu.
Meninggalkan jejak jejaknya dirambutku.
Betapa aku ingin memasuki cintamu, menggapai hangat dimatamu coklat.
Sedang engkau, rambut malam yang menjelma kabut,
yang kau ikat direranting cemara, menggelayut.

Mari pulang sebelum senja membentang.

Thursday, April 29, 2010

Hill End



Hill End

Dibebukit purba:
Gubug gubug kecil
lampu lampu kecil .
pepohonan kerdil membongkok,
dibebukit tua terseok.

Dingarai :
bekas sungai,
dan ladang ladang landai,
seribu domba, seribu sapi,
sunyi membangkai,
sepi membantai.

Musim semi:
kuntum bunga bunga ungu, diladang rumput.
harum rambutmu semburat di bebukit,
kau dengarkah rinduku yang menjerit ?...

Bulan biru:
rinduku membeku diurat bebatu.

Wednesday, April 28, 2010

Sajak hujan kepada sungai

( Embun jatuh kejurang membentur bebatu, remuk tapi tanpa riuh, bisu. Maka, diijurang berbaringlah segala gelap itu ).
Senja
Lalu senja rebah, mendekap matahari dengan sayapnya, kabut.
Lembut, dipasir laut, sehelai menyangkut di reranting berlumut.
Ada jingga tapi pelangi tak sesempurna biasanya.
Kabut ditiup angin, dan bibirmu menggigil dingin.
Sedang mega mega yang turun, begitu anggun mengurung gunung.

Seekor kekupu hinggap didahan limau, dimana kau ikat kertas bertulis puisi.
Ketika angin berderai; puisimu melambai.
Manis, manis..... rambutmu berderai panjang hingga menyentuh pucuk pucuk musim semi. Kelak, kita akan duduk diatas bebatu, memandang musim berlalu dan waktu melaju.
Dan didepanku engkau kupeluk, membiarkan aku menciumi rambutmu, ke- seribu.


lilin
Pucuk pucuk cemara meliuk dan mendesah.
Malam berciuman dengan kelam, bukit bersenggama dengan langit.
Gelap tak pekat dikarena lilin.
Kabut membalut langit, tapi angin menggendong rembulan dengan senyumnya gamang.
Lewat jendela, ia menyelinap kekamarmu, mengharap jemarimu mengusap airmatanya, embun.
Lalu diciumnya bibirmu yang mungil, dari lehermu menguap harum bunga mawar.
Sedang matamu sebegitu teduh, mengulum luka luka dijiwaku.

Embun
Dipunggung gunung ladang ladang gubis, kentang, rerumput dan reranting kering.
Dan desir pasir dan desah cemara.
Malam berbaring disini, bulan putih dan bunyi kecapi.
Segumpal embun menantimu didahan melati.

Tuesday, April 27, 2010

Sajak kabut tentang lilin bunga

Ketika tubuhmu meleleh dalam pelukku, aku menangis.
Tetapi, isak tak membuatmu menggumpal.
Engkau senja. Tembaga dan cahaya.
berlari menuju pelabuhan,
Mengejar matahari yang tenggelam. Pulang.
Dan aku:
Tiang layar yang hadir hilang. Sendirian dikoyak sepi malam.

Kelak bila ada kehendak.
Kita menjelma kabut.
Hingga rindu larut,
membantai sepi yang akut.

Dan jika engkau lupa.
Aku selalu menantimu ditepi sungai itu,
dibawah pohon tempat kita dulu.
Menjelma rumput rumput rebah.

Monday, April 26, 2010

sajak sepasang pohon

sebelum malam bersayap kelam
sepasang pohon ditepi sungai, berciuman
sepasang pohon. Sayang.

Saturday, April 24, 2010

wangi rambutmu


Musim gugur di Sungai Torrens. langit biru.
Dedaun jatuh ditiup angin. Engkau dan aku.
Oh wangi rambutmu, wangi tubuhmu.

" Wangi rambutmu membakar bangkai rinduku.
wangi rambutmu mengubur jasad sepiku. "

Oh sungaiku, Oh sungai ku
kunyalakan lilin sebelum senja berhantu.
Agar selalu kukenangkan wangi rambutmu.

Sungaiku, engkau


April. Musim gugur. Namun, udara masih terasa hangat. Di bulan begini, aku masih suka berenang dilaut. Selain berenang aku juga suka jalan kaki dan bersepeda. Laut tempat aku berenang tidaklah jauh dari rumahku Mosman. Mosman, masih berada dalam lingkup pelabuan kota Sydney. Pelabuan elok yang ditandai dengan kemegahan jembatan Sydney dan Sydney opera house. Lebih elok lagi dimalam tahun baru dengan percikan kembang api.

Dari Circular Quay biasanya aku naik kapal selama 20 menit turun dipelabuhan Mosman selatan. Lalu ganti dengan bis nomor 230 yang berhenti didepan rumah. Kadang kadang aku lebih suka berjalan kaki daripada naik bis. Dari pelabuhan Mosman Selatan ke rumah atau sebaliknya dari rumah ke pelabuhan itu. Perjalanan melewati rumah rumah kolonial dan gereja bertembok bata merah, hanya 20 menit jalan kaki.

Bila berada dalam kapal, sering aku ingat perahu kecil di sungai Sidoarjo. Sungai kecil yang elok. yang di pematangnya ditumbuhi pohon pohon bakau dan waru. Yang ditepiannya ada lubang lubang kepiting dan belut. Sewaktu kecil, kami sering menyusuri sungai itu dengan sebatang perahu. Perahu sebatang pohon kayu jati bikinan almarhum bapak. Perahu yang kami gunakan menyaksikan burung burung manyar membuat rumah direranting bambu. Selain membuat perahu itu, bapakku juga membuat rakit dari beberapa batang bambu yang diikat dijadikan satu.

Beberapa waktu lalu aku mengunjungi kota Adelaide. Kali ini, aku tidak banyak bekerja selain merundingkan beberapa gagasan berkarya bersama dan kemungkinan untuk berpameran di gedung festival. Diselah selah pertemuan dan perundingan dengan beberapa rekan aku sering berjalan menyusuri kota Adelaide. Perjalanan yang paling mengesankan adalah menyusuri sungai Torrens.

Karena sungai itu pula, aku akan membuat karya yang berjudul " sungaiku ". Tentu kepedulianku akan perubahan yang terjadi pada sungai dikampung asalku. Sungai yang tak lagi ditumbuhi pohon pohon bakau. yang tak lagi ada bunga bunga teratai ditepiannya. yang ini telah berubah menjadi pembuangan limba. Baik limba rumah tangga ataupun limba industri.

Pun selain sebagai catatan perubahan lingkungan menurut kenangan pribadiku, karya ini aku aku persembahkan untuk seseorang yang teristimewa. Seperti sungai itu, seorang tersebut inspirasi yang tiada terkira. Baik ketika berbicara, atau dalam diamnya, senantiasa mengisyaratkan keindahan hidup dari kacamata yang paling sederhana.

drawing

drawing

drawing

drawing

GREETING

Welcome to my little world, it is a world within a world, within my dream, within my drawing and painting. An artist is an artist, wether you were born like that or like this. Art is to make or not to make.